Selasa, 01 Januari 2019

Tulisan Pertama : Mau Ngapain?


Halo sobat! salam kenal ya, kalau belum kenal silakan kenalan dulu yuk dengan admin di Halaman Ini. 

Sebelum saya jelasin maunya apa (*kalem aja yah), ada sebuah hadits yang ingin saya sampaikan ke teman-teman. Hadits ini adalah hadits pertama yang saya hafalkan sewaktu ikut ngaji di Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin dan menurut saya memang sudah seharusnya kita semua mengetahui hadits ini dan semoga dapat mengamalkannya. Dikutip dari kitab Arba'in An-Nawawi :

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ’Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (ingin mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Imam Bukhari dan Imam Muslim) 

Kedudukan dan Keutamaan Hadits Ini

Hadits ini merupakan salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i -rahimahumallah- berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dan lain-lain. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat di dalam hati, ucapan  (lisan) dan tindakan (anggota badan). Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu.

Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari.

Abdurrahman bin Mahdi berkata : “Bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.

Ibnu Rajab, dalam Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam (1/61) berkata, “..Dan Al-Bukhari pun memulai kitab Shahihnya dengan hadits ini, dan memposisikannya sebagai khuthbah (muqaddimah) nya. Hal ini sebagai isyarat dari beliau bahwa setiap amalan apapun yang dilakukan yang tidak didasari niat mengamalkannya karena Allah, maka amalan tersebut bathil, tidak menghasilkan suatu apapun, baik di dunia maupun di akhirat”

Niat memiliki 2 fungsi:
  • Jika niat berkaitan dengan tujuan suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
  • Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.
Saya tambahkan sedikit mengenai niat yang berkaitan dengan tujuan suatu amal, di sini niat berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan sehari-hari. Contohnya :
  1. Seseorang makan hanya demi memenuhi rasa lapar semata, sementara yang lain makan demi menjalankan perintah Allah dalam firman-Nya :
    وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟
    "...Makan dan minumlah..." (Al A'raf : 31). Karena niat, makan yang dilakukan orang kedua bernilai ibadah, sementara orang yang pertama hanya menghilangkan rasa lapar saja. Bisa juga aktivitas makan tersebut diniatkan untuk bisa lebih fokus dan semangat dalam beribadah, maka ini juga bernilai ibadah.
  2. Si A mandi hanya agar merasa segar, sementara si B mandi dengan niat mandi jinabat (mandi junub atau mandi wajib). Maka meskipun si A yang junub lalu mandi, namun tidak disertai niat mandi jinabat, maka ia masih dalam keadaan junub. Karena mandi jinabat harus disertai niat.
Karena itulah sebagian ulama bilang, ibadah orang yang lengah itu adalah kebiasaan, dan kebiasaan orang yang sadar itu adalah ibadah. Contoh ibadah orang yang lengah bernilai kebiasaan saja adalah seseorang berwudhu, shalat, kemudian pergi seperti biasanya (rutinitas belaka). Dan contoh kebiasaan orang yang sadar bernilai ibadah adalah makan untuk melaksanakan perintah Allah, bermaksud untuk mempertahankan hidup, dan menjaga diri agar tidak meminta-minta kepada orang lain. Dengan begitu, makan baginya memiliki nilai ibadah.

Kemudian tambahan sedikit mengenai niat yang berkaitan dengan amal itu sendiri, di sini niat berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah yang satu dengan amal ibadah yang lainnya. Langsung saja contohnya ada seseorang yang shalat dua rakaat dengan niat untuk melaksanakan shalat sunnah, dan ada pula seseorang yang shalat dua rakaat dengan niat untuk melaksanakan shalat fardhu.

Niat ini juga bisa dipecah-pecah, jadi misal kita datang ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, rugi kalau niatnya cuma buat shalat doang. Selain pasang niat shalat, pasang juga niat untuk berkumpul dengan orang-orang yang shalih, kemudian bisa pasang niat juga untuk menyimak kajian (jika ada) *jangan sekedar nyimak tapi gak ada niat yang benar buat menyimak kajian*, kemudian bisa niat i'tikaf di masjid, sungguh banyak sekali satu aktivitas bisa dibarengi dengan beberapa niat dan itu dinilai bukan hanya satu, melainkan beberapa ibadah sekaligus.

Yang tidak kalah pentingnya juga, ketika bangun tidur hendaknya berniat untuk menjauhi maksiat di hari itu, maka insya allah selama anda tidak melakukan maksiat di hari itu anda akan mendapatkan pahala. Kemudian ketika hendak tidur juga niatkan tidurnya untuk istirahat dan nanti bangun shalat shubuh, maka tidurnya itu pun bernilai ibadah di sisi Allah. Masya Allah, begitu banyak sebenarnya kemudahan yang diberikan oleh Allah, namun seringkali kita enggan untuk belajar (naudzubillah min dzaalik).

Loh kok jadi fokus ngebahas hadits ini sih? kan judulnya mau ngapain tadi? justru itu, saya di sini mau mengingatkan kepada kita semua khususnya diri saya sendiri kalau melaksanakan sesuatu, apa pun itu perlu didasari niat yang baik dan benar dan juga amalnya benar!

Jadi, saya berencana kedepannya akan menulis hal-hal yang bermanfaat, berbagi apa saja pengetahuan yang saya miliki meskipun terbatas (karena saya masih banyak kurangnya). Mengenai apa saja topik yang akan saya tulis antara lain mengenai way of life, teknologi, tips dan trik, kesehatan, mengulas (review), dan yang lainnya pokoknya yang bermanfaat deh.

Cukup sekian untuk tulisan pertama ini, semoga kita semua diberikan rezeki yang cukup, badan yang sehat, dan yang pastinya diridhoi oleh Allah dalam setiap aktivitas kita.

Referensi :
[1] Syarah Hadits Arba'in, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
[2] Al-Wafi Syarah Hadits Arba'in, Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha & Syaikh Muhyidin Mistu.